Biaya Pengiriman Laut Kembali Naik: Apa Dampaknya terhadap Rantai Pasok Global?
Memasuki kuartal pertama 2026, pelaku usaha yang mengandalkan pengiriman barang melalui jalur laut harus menghadapi kenyataan baru: biaya logistik terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Sejumlah raksasa ritel dunia sudah angkat bicara soal hal ini. Walmart menyebutkan adanya lonjakan biaya logistik dalam laporan keuangan terbarunya. Target dan Amazon turut menyoroti tantangan serupa terkait keandalan rantai pasok dan kenaikan biaya operasional. Hal yang sama dirasakan Home Depot dan Costco untuk barang-barang impor mereka. Di industri fesyen, brand seperti Columbia Sportswear dan Levi Strauss bahkan telah mengumumkan kenaikan harga untuk koleksi terbaru mereka dengan alasan yang sama: beban biaya pengiriman dan impor yang semakin berat.
Pola ini terlihat di hampir semua sektor. Mulai dari elektronik, kebutuhan rumah tangga, pakaian, hingga bahan pangan, biaya untuk memindahkan barang dari pabrik ke rak toko terus merangkak naik. Dan pada akhirnya, kenaikan ini mulai dibebankan kepada konsumen.
Apa yang Menjadi Penyebabnya?
Ada beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Ketidakstabilan di sejumlah jalur pelayaran utama memaksa kapal-kapal mengambil rute yang lebih panjang. Banyak kapal kini harus memutar melalui ujung selatan Afrika, yang berarti waktu tempuh bertambah dua minggu atau lebih per perjalanan. Waktu yang lebih lama di laut secara otomatis meningkatkan konsumsi bahan bakar, memperketat ketersediaan kapal, dan mendorong naiknya berbagai biaya tambahan.
Di sisi lain, perubahan kebijakan perdagangan dan lonjakan tarif impor menambah beban biaya pada setiap kontainer yang masuk ke pelabuhan. Bagi para importir, kombinasi antara biaya pengiriman dan bea masuk ini telah mengubah keseluruhan kalkulasi bisnis untuk pengadaan barang dari luar negeri. Sejumlah pemerintah memang tengah membahas kemungkinan keringanan, namun untuk saat ini, pelaku usaha harus menanggung dampaknya secara mandiri atau menyesuaikan harga jual.
Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Skala dampak finansialnya sangat signifikan. Berdasarkan analisis industri, perusahaan-perusahaan global memproyeksikan total dampak finansial terkait tarif mencapai 21 hingga 23 miliar dolar AS pada 2025, dengan tambahan 15 miliar dolar AS diperkirakan menyusul pada 2026. Dari sisi tarif pengiriman, harga spot masih berfluktuasi. Meskipun kelebihan kapasitas menekan tarif di beberapa rute, biaya tambahan seperti surcharge bahan bakar, premi asuransi, serta rute pelayaran yang lebih panjang membuat total biaya pengiriman tetap berada di level tinggi.
Bagi peritel yang beroperasi dengan margin tipis, kenaikan biaya per kontainer yang tampak kecil dapat menjadi angka yang sangat besar ketika dikalikan dengan ribuan pengiriman. Para analis memperkirakan akan muncul lebih banyak pengumuman kenaikan harga dari berbagai perusahaan sepanjang musim laporan keuangan kali ini.
Dilema Peritel: Menaikkan Harga atau Menjaga Loyalitas Pelanggan?
Di sinilah letak dilema terbesarnya. Perusahaan perlu menutup kenaikan biaya logistik, namun mereka juga menyadari bahwa menaikkan harga secara agresif berisiko mendorong konsumen beralih ke produk yang lebih murah atau mengurangi frekuensi belanja.
Jajaran eksekutif Target telah menyatakan bahwa kenaikan harga merupakan langkah paling terakhir yang ingin mereka ambil. Best Buy memilih strategi negosiasi dengan pemasok dan diversifikasi sumber pengadaan barang untuk mengelola ketidakpastian ini. Secara umum, industri ritel berupaya menyerap sebanyak mungkin kenaikan biaya secara internal, namun dari sisi kalkulasi bisnis, ruang untuk melakukan hal tersebut semakin sempit.
Sejumlah perusahaan mulai mengubah strategi inventaris dengan mempercepat pembelian guna mengamankan harga yang berlaku saat ini, atau mengurangi volume pesanan di kategori yang permintaannya melemah. Ada pula yang mulai menjajaki nearshoring, mencari alternatif wilayah pengadaan, serta mengejar efisiensi di seluruh jaringan distribusi mereka. Namun dengan ketidakpastian kebijakan yang belum juga mereda, perencanaan jangka panjang menjadi sangat sulit dilakukan.
Ketika Biaya Pengiriman Naik, Melindungi Kargo Menjadi Keharusan
Ketika total biaya satu kontainer meningkat akibat ongkos kirim, bahan bakar, dan tarif impor, maka kerugian dari kerusakan kargo juga ikut membesar. Satu kiriman pakaian, elektronik, atau barang berbahan kulit yang ditolak pembeli bukan sekadar kehilangan produk. Seluruh investasi mulai dari pengadaan, produksi, pengiriman, bea masuk, hingga asuransi akan hangus dalam satu kejadian.
Risikonya pun sangat nyata. Perjalanan laut yang lebih panjang berarti lebih banyak hari di laut, lebih banyak perubahan suhu antar zona iklim, dan lebih banyak kondensasi yang terbentuk di dalam kontainer tertutup. Kelembapan ini, yang kerap disebut sebagai “container rain,” merupakan salah satu penyebab utama munculnya jamur, korosi, dan kerusakan kemasan selama pengiriman melalui jalur laut.
Desiccant SUPER DRY dirancang khusus untuk menghadapi kondisi tersebut. Berbahan dasar Calcium Chloride dan starch, desiccant ini mampu menyerap kelembapan hingga 300% dari berat keringnya, aktif bekerja selama 90 hari, dan tetap efektif pada rentang suhu -5°C hingga +90°C. Di tengah situasi di mana setiap kontainer membawa beban finansial yang lebih besar dari sebelumnya, SUPER DRY menjadi solusi paling praktis dan efisien untuk memastikan seluruh investasi tersebut tiba di tujuan dalam kondisi utuh.
Biaya pengiriman mungkin berada di luar kendali, namun kerusakan kargo tidak harus demikian.
Informasi lebih lanjut tersedia di superdryers.com.
